Dari Limbah Nanas, UMKM Prabumulih Berhasil Dilirik Pasar Eropa 

Hasilkan Produk Kapas Berstandar Internasional

Oplus_131072

 

Klikdata.id Prabumulih – Kota Prabumulih, Sumatera-selatan, sudah sejak lama dikenal sebagai Kota Nanas dengan luas perkebunan mencapai 18.110 hektar yang tersebar di enam kecamatan dan menjadi komoditas unggulan. Namun, pada tahun 2023 baru mampu memanfaatkan limbah nanas yang selama ini di buang menjadi sebuah produk hingga dilirik pasar Eropa.

Menurut ketua Koperasi MIWA Pineapple, Agus Jali, pemanfaatan limbah nanas berawal dari ketertariknnya melihat pengolahan limbah serat daun nanas di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Dari sana ia belajar mengolah limbah nanas dengan dibantu pelatihan eksportir singapura.

Namun, dari pelatihan yang diberikan, ia hanya mampu mengolah serat daun nanas dan belum menjadi sebuah produk. Nah, pada tahun 2024, barulah Koperasi MIWA Pineapple yang berada di Jalan Belitung, Kelurahan Gunung Ibul Utara, Kecamatan Prabumulih Timur, menjalin kerja sama dengan PT Serat Nanas Indonesia, dengan menguji kualitas dari serat daun nanas Prabumulih, dengan hasil uji tarik dan lentur berkualitas textile.

“Kualitas Nanas Prabumulih masuk kategori quen. Saat ini, produk yang mampu kita hasilkan berupa benang dari serat daun nanas, kapas untuk bahan dasar fiber rangka body pesawat, mobil dan juga sebagai bahan untuk rompi anti peluru.” Terang Agus.

Dengan dibantu mesin produksi sebanyak lima unit dari PT. Pertamina Gas (Pertagas), Koperasi MIWA Pineapple dengan sepuluh pekerja mampu menghasilkan kapas kualitas ekspsor sebanyak 800 kg dalam satu hari.

Direktur PT Serat Nanas Indonesia, Ida Sejati, mengungkapkan jika dirinya yang telah melakukan uji coba terhadap serat nanas dari berbagai daerah baru menemukan terbaik dari kota Prabumulih yakni jenis serat nanas Quin.

“Dari hasil uji coba laboratorium kita, kualitas serat nanas dari Kota Prabumulih adalah yang terbaik dan diminati oleh pasar eropa.” Jelas Ida.

Ia juga mengakui, meski saat ini masih fokus ke tekstil pembuatan pakaian dengan bahan sutra, katun dari hasil serat nanas, kedepan setelah sumber daya manusia (SDM) telah mumpuni dan peralatan lengkap, maka permintaan dari pasar eropa akan segera direalisasikan dan tentunta produk yang dihasilkan tanpa menggunakn bahan kimia.

“Kalau ini menjadi kapas, untuk kapas ini sangat dicari khusus nya pasar eropa karena seperti filter rokok itu pakai serat ini. Kalau sudah jadi kapas itu banyak yang cari, bisa jadi fiber rangka mobil, rompi anti peluru, peredam suara dan lainnya,” bebernya.

Selian pemanfaatan sebagai bahan dasar textile, fiber rangka pesawat, mobil dan rompi anti peluru, dari buah nanas quen juga dapat diolah menjadi produk makanan dan minuman. Selain itu, limbah dari serat daun nanas yang telah menjadi benang bisa menjadi pakan ternak.

Saat ini, dengan kolaborasi antara PT. pertamina Gas, PT.Serat Nanas Indonesia dan Koperasi MIWA Pineapple, terus memberikan pelatihan khusus kepada para petani dan pelaku usaha UMKM dengan mendatangkan akademisi sebagai narasumber.

Manager Pertamina Gas Area Sumbagsel, Andre Tobing, memberikan apresiasi kepada koperasi Miwa yang komitmen mengembangkan serat daun nanas.

“Kita perusahaan juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat di lingkungan oprasional terlebih program kerja koperasi ini sejalan dengan kita yakni meningkatkan tarap hidup masyarakat,” ungkapnya.

Andre Tobing mengaku pihaknya memberikan support kepada koperasi tidak hanya pelatihan saja namun juga alat-alat kerja dan pihaknya akan terus membantu jika ada kekurangan.

“Intinya kita mendukung penuh, kita berikan alat berupa mesin dan kita berikan pelatihan sehingga kedepan bisa menghasilkan kapas. Karena kita dengar kapas hasil daun nanas ini kualitasnya sangat bagus dan harganya sangat mahal,” ungkapnya.

Dengan adanya permintaan pasar Eropa, Koperasi MIWA Pineapple yang bekerja sama dengan PT.Serat Nanas Indonesia, masih masih mengalami kekurangan bahan baku, mengingat saat ini tanaman nanas di Kota Prabumulih masih sebatas tanaman tumpang sari.

Berbagai upaya dilakukan merek slah satunya menjalin kerja sama dengan petani yang ada di wilayah Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Ilir, untuk memasok bahan baku dan menjadikan nanas sebagai tanaman utama khususnya di Kota Prabumulih.

Adapun cara mengolah limbah serat daun nanas diantaranya, memilah serat daun nanas yang akan digunakan lalu di bersikan. Selanjutnya, daun nanas yang telah dibersihkan dimasukan kemesin pemecah daun menjadi serat.

Setalah dipecah menjadi serat benang, dilanjutkan dicuci dan di sisir hingga bersih dan direndam selama tiga hingga lima hari dengan dicampur bakteri agar benang yang dihasilkan menjadi halus.

Tidak sampai disini saja, setelah perendaman, serat dan akan menjadi benang lalu di jemur dan setelah kering lalu di masukan kembali kemesin penghalus. Selanjutnya dimaskan dipotong menggunkan mesin pencacah dan terakhir setelah dicacah kembali masuk mesin untuk menjadi kapas berkualitas ekspor. Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *